Umar Bin Khattab dan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 51

Panduan AdSense YouTube
Ingin tahu cara mendulang Dollar AdSense YouTube? Cek di PANDUAN ADSENSE YOUTUBE
=================================================

Umar bin Khattab dan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 51
PRO KONTRA tentang boleh tidaknya orang Islam memilih pemimpin beragama Kristen, orang kafir, atau non muslim secara umum terus berlanjut dari waktu ke waktu. Dalil yang paling disebut dan dibacakan mengenai haramnya memilih pemimpin non muslim adalah Al Quran Surah Al-Maidah ayat ke-51.

Secara jelas, Al Quran Surah Al-Maidah ayat ke-51 tersebut melarang kaum muslimin memilih pemimpin Yahudi dan Nashrani. Namun, ada saja pendapat dari ‘orang pandai’ yang memperbolehkan mengangkat Yahudi dan Nashrani sebagai pemimpin. Tentu, dengan mengotak-atik ayat tersebut sehingga muncul penafsiran yang berseberangan.

Arti Surat Al Maidah Ayat 51

Apa arti auliya (أَوْلِيَاءَ) yang disebut dalam Al Quran Surah Al-Maidah ayat ke-51 itu?

Dalam Bahasa Arab, auliya (أَوْلِيَاءَ) sama artinya dengan walijah (وَلِيجةُ). Keduanya berarti: “orang kepercayaan, yang khusus dan dekat” (lihat Lisaanul ‘Arab). Auliya dalam bentuk jamak dari wali (ولي) yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At Tafasir, 305).

Seorang mufassir (ahli tafsir Al Quran) kenamaan, Ibnu Katsir, ketika menjelaskan Al Quran Surah Al-Maidah ayat ke-51 ini menulis sebagai berikut:

“Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya. Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mu’min yang melanggar larangan ini Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim“” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Kemudian Ibnu Katsir membeberkan sebuah riwayat dari Khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. (Baru-baru ini, Kisah Umar bin Khathab dalam menafsirkan Al Quran Surah Al-Maidah ayat ke-51 ini menjadi ramai di media sosial. Sekedar menyegarkan ingatan kita pula bahwa Michael H Hart memasukkan Umar bin Khattab sebagai salah satu dari 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Keadilan dan kebijaksanaan Umar sungguh menakjubkan dan membuatnya sangat dicintai rakyat).

Bahwasanya Umar ibnul Khathab menginstruksikan kepada Abu Musa Al Asy’ari agar mengangkat seseorang yang bertugas secara khusus dalam mencatat pemasukan dan pengeluaran pemerintah. Kebetulan Abu Musa punya seorang penulis non muslim (Nasrani).

Maka Abu Musa pun mendapuknya sebagai petugas pencatat pengeluaran dan pemasukan di pemerintahannya. Demi melihat hasil kerja si penulis baru ini, Sayyidina Umar ibnul Khathab pun terkagum-kagum dibuatnya.

Lalu, beliau mengatakan: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’.

Abu Musa al-Asy’ari yang dikenal memiliki suara merdu dalam membaca Al-Qur’an menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’.

Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’.

Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’.

Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘pecat dia!’.

Umar lalu membacakan ayat: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Versi lain mengenai kisah Umar Bin Khattab dan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 51 termuat dalam tafsir “Al-Kasyf wa Al-Bayan“, Imam Abu Ishaq Ats-Tsa’laby telah menukil sebuah kisah dari Iyadh Al-Asy’ary;

وقال عياض الأشعري : وفد أبو موسى الأشعري إلى عمر بن الخطاب ، فقال : إن عندنا كاتباً حافظاً نصرانياً من حاله كذا وكذا . فقال : مالك قاتلك الله ؟ أما سمعت قول الله تعالى : ( يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا بطانة من دونكم ) الآية ، وقوله ( لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء ) ؟ هلا اتخذت حنيفيّاً

“Dan Iyadh Al-Asy’ary berkata; Suatu ketika Abu Musa Al-Asy’ary datang kepada Umar Ibn Khattab dan berkata; “Kita memiliki seorang penulis (pencatat/sekretaris) yang terpercaya dan beragama Nasrani, dimana orangnya begini dan begini (menyanjung kelebihannya). Kemudian Umar pun berkata; “Ada apa denganmu? Sungguh Allah akan memerangimu (ungkapan pengingkaran), tidakkah telah kau dengar Firman Allah; “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu” dan juga Firman Allah; “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali(mu).” Mengapa tidak kau ambil saja orang yang Hanif? (orang yang bertauhid dan bukan musyrik).”

Di beberapa website, kisah Umar bin Khathab dan Al Quran Surah Al-Maidah ayat ke-51 ini dibuka dengan kalimat yang sangat apik: “Tidak ada yang lebih paham bagaimana menafsirkan QS. Al-Maidah ayat 51 daripada shahabat Nabi, ‘Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu”.

Di beberapa website lainnya, kisah Umar bin Khathab dan Al Quran Surah Al-Maidah ayat ke-51 ini ditutup dengan kalimat: “Berani bilang Sahabat Umar ra pembohong?”

Hemmm… semoga kita diberi pemahaman yang hakiki. Dan dijauhkan dari kesesatan. Wallahu a’lam bimurodih (Allah Yang Maha Tahu akan apa yang Dia maksudkan)

Umar Bin Khattab dan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 51 was last modified: August 8th, 2017 by Mas TohaS
Advertisement

Gallery of Umar Bin Khattab dan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 51

Umar bin Khattab dan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 51