Musa Bin Hanafi Hafal 30 Juz di Usia 5,5 Th Santri Hafidz Cilik Indonesia RCTI

by

Musa Bin Hanafi Hafal 30 Juz di Usia 5,5 Tahun. Musa adalah salah satu dari sekian banyak Santri Hafidz Cilik Indonesia yang digelar RCTI. Kehadiran Musa di pentas hafidz Indonesia RCTI membekaskan kesan yang teramat sangat mendalam. Dia mampu membuat para juri dan hadirin menangis. Sampai-sampai Ustadz Amir Faishol Fath (salah satu juri) tak kuasa memberikan penilaian.

Dengan beruraian air mata, Ustadz Amir Faishol Fath maju ke depan, tempat di mana Musa berdiri. Beliau meraih tangan Musa dan menciumnya. Subhanallah! Hujan tangis pun tak terhindarkan di episode Hafidz Quran Indonesia kali itu. Jika di sana disebutkan Musa hafal 29 juz, maka mengapa di tulisan ini saya bilang 30 juz?

Musa Hafidz Al Qur'an Cilik Indonesia 2014 RCTI
SUBHANALLAH! Ustadz Amir Faishol Fath, Salah satu juri maju ke depan dan meraih dan mencium tangan Musa, “Anak Ajaib” Hafiz Indonesia 2014 – Dari Bangka Umur 5,5 Tahun Hafal 29 Juz

Meski belum membuktikan, saya tidak ragu lagi, pada detik saya menulis artikel ini, Musa sudah menyelesaikan hafalannya hingga 30 Juz. Bukan tanpa alasan sih. Beberapa minggu lalu, Musa baru hafal 27  juz. Ketika dijemput oleh Irfan Hakim, hafalannya sudah mencapai 29 juz. Ketika para juri dan hadirin dibuat menangis oleh penampilan Musa hari itu, hafalan Musa sudah 29 juz lebih (hampir 30). Ini karena ada beberapa surat yang belum hafal. Nah, sekarang (setelah 7 hari) pastinya sudah paripurna Musa menghafal keseluruhan Al Qur’an 30 Juz.

Pada kesempatan itu, Syeikh Ali Jaber pun berkomentar, “Itu sudah membuktikan janji Allah SWT. ‘Kami telah memudahkan Al-Quran untuk dipelajari‘ (Al-Qamar: 17). Saya percaya dan yakin bukan orang tua saja yang bangga, bukan kita sebagai juri di sini bangga, tapi saya yakin 100% Allah juga bangga terhadap seorang hamba yang bisa berhasil menjadi ahlul Quran. Dan saya percaya dan yakin, seperti Musa ini masih banyak di negeri kita. Mudah-mudahan dengan wujudnya anak-anak seperti ini Allah berkahi negeri kita”.

Musa hanyalah satu dari sekian banyak santri-santri cilik yang kini sedang menghafal Al-Qur’an di rumah tahfidz yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Suasana tangis berseling tawa dan tepuk tangan pada episode tampilnya musa di Hafidz Indonesia RCTI bisa Anda tonton di video berikut:

Kesaksian Hanafi (Ayah Musa) Tentang Perjalanan sebelum Musa Ikut Hafidz Indonesia RCTI

“Sejak awal kelahirannya saya dan ibunya ingin anak ini menjadi seorang penghafal Al-Qur’an” ujar Hanafi (34) ayah dari Musa, saat ditemui disela-sela audisi hafidz Qur’an di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.

Maka, sejak saat itu Hanafi pun berkeras untuk mendidik Musa menjadi penghafal Al-Qur’an. Ia bercerita sejak dalam kandungan Musa sudah dikenalkan dengan bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh ia dan ibunya.

“Bila banyak yang mendengarkan musik pada bayi sejak dalam kandungan kami mendengarkan Musa yang saat itu masih dalam kandungan dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an” Hanafi mengenang.

Pria yang berprofesi sebagai petani ini mengisahkan saat Musa berusia dua tahun ia mulai mengenalkan dengan huruf-huruf hijaiyah. Metodenya sederhana ia menempel di dinding satu dua huruf hijaiyah untuk selalu diulang-ulang oleh Musa. Setelah beberapa hari dan meyakini anaknya sudah hafal huruf tersebut ia mengganti dengan huruf lainnya. Metode tersebut terus dilakukan hingga keseluruhan huruf hijaiyah tuntas.

Bukan tanpa halangan mengajarkan ngaji sejak usia dini. Ini pula yang dirasakan oleh Hanafi. Saat Musa berusia 3,5 tahun sudah tampak rasa bosan. Ia selalu menangis saat diajak mengaji. Tapi Hanafi terus membimbingnya. Ia tidak menghiraukan tangisan Musa.

Untuk mempercepat proses menghafal Musa ia bermitra dengan rumah tahfidz Sabilar Rosyad yang berada tidak jauh dari tempatnya tinggal.

“Banyak yang bilang saya ekstrim karena tidak memberi ruang kepada anak. Jujur, saya iba juga jika ia sedang menangis. Tapi saya meyakini kalau tidak dimulai saat ini maka kedepan akan seratus atau lebih kali lebih susah” ujar Hanafi.

Kini, Hanafi sangat bersyukur dan bangga dengan metode yang ia terapkan. Selain sudah dapat menghafal 30 Juz dalam 3 tahun, Musa kecil selalu membangunkan dirinya untuk Qiyamullail. Bahkan Musa setelah itu tidak tidur lagi tetapi ia menunggu waktu subuh, dan setelahnya ia bermain dengan anak-anak sebayanya. Satu yang membedakan di kala bermain Musa menyempatkan untuk Murojaah, mengulang kembali, hafalan Qur’annya.

Kata Kunci Terkait :

pemenang hafidz indonesia 2014,biografi Musa hafidz Indonesia,musa hafiz rctil